Bismillahirrahmaanirrahiim,
Assalamu'alaykum wr wb.
Welcome
to Fathimahsid’s blog..Untuk posting kali ini ane mau nge-share tentang
Cerita Pendek atau yang biasa teman-teman kenal dengan sebutan cerpen. Kalian
sering kan, pas kecil dulu di dongeng-in sama
ibu atau ayah, naah dongeng itu
beberapa ada yang masuk dalam kategori Cerita Pendek atau cerita-cerita pendek yang sering kalian temui di majalah atau koran..kenapa gitu? Yuk kita cari tau lebih banyak tentang cerpen berikut
ini..selamat membaca
1. CERITA PENDEK
A. Pengertian Cerita Pendek
Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah suatu
bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada
tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi lain yang lebih panjang, seperti
novella (dalam pengertian modern) dan novel. Karena singkatnya, cerita-cerita
pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema,
bahasa dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih
panjang. Ceritanya bisa dalam berbagai jenis.
B. Unsur-unsur cerita pendek
-Unsur Intrinsik
Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun
karya itu sendiri. Unsur–unsur intrinsik cerpen mencakup:
·
Tema adalah ide
pokok sebuah cerita, yang diyakini dan dijadikan sumber cerita.
·
Latar(setting)
adalah tempat, waktu , suasana yang terdapat dalam cerita. Sebuah cerita harus
jelas dimana berlangsungnya, kapan terjadi dan suasana serta keadaan ketika
cerita berlangsung.
·
Alur (plot)
adalah susunan peristiwa atau kejadian yang membentuk sebuah cerita.
Alur dibagi menjadi 3 yaitu:
1.)
Alur maju adalah
rangkaian peristiwa yang urutannya sesuai dengan urutan waktu kejadian atau
cerita yang bergerak ke depan terus.
2.) Alur mundur adalah rangkaian peristiwa yang
susunannya tidak sesuai dengan urutan waktu kejadian atau cerita yang bergerak
mundur (flashback).
3.) Alur campuran adalah campuran antara alur maju
dan alur mundur.
Alur meliputi beberapa tahap:
a.
Pengantar: bagian
cerita berupa lukisan , waktu, tempat atau kejadian yang merupakan awal cerita.
b.
Penampilan
masalah: bagian yang menceritakan masalah yang dihadapi pelaku cerita.
c.
Puncak ketegangan
/ klimaks : masalah dalam cerita sudah sangat gawat, konflik telah
memuncak.
d.
Ketegangan
menurun / antiklimaks : masalah telah berangsur–angsur dapat diatasi dan
kekhawatiran mulai hilang.
e.
Penyelesaian /
resolusi : masalah telah dapat diatasi atau diselesaikan.
·
Perwatakan
Menggambarkan watak atau karakter seseorang
tokoh yang dapat dilihat dari tiga segi yaitu melalui:
1.)
Dialog tokoh
2.) Penjelasan tokoh
3.) Penggambaran fisik tokoh
·
Tokoh
Tokoh adalah orang orang yang diceritakan
dalam cerita dan banyak mengambil peran dalam cerita. tokoh dibagi menjadi 3,
yaitu:
1.)
Tokoh
Protagonis : tokoh utama pada cerita
2.) Tokoh Antagonis : tokoh penentang atau
lawan dari tokoh utama
3.) Tokoh Tritagonis : penengah dari tokoh
utama dan tokoh lawan
·
Nilai (amanat)
Amanat
adalah pesan atau nasihat yang ingin disampaikan pengarang melalui cerita.
-Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang
berada di luar karya sastra, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan
atau sistem organisme karya sastra. Unsur ekstrinsik meliputi:
·
Nilai-nilai dalam
cerita
1.
Nilai Agama
Nilai agama yaitu nilai-nilai dalam cerita yang sangat berkaitan dengan ajaran
yang berasal dari agama.
2.
Nilai Moral
Nilai moral merupakan nilai-nilai dalam cerita yang sangat berkaitan dengan
akhlak atau etika. Nilai moral dalam sebuah cerita bisa jadi nilai moral yang
baik, bisa juga nilai moral yang buruk/jelek.
3.
Nilai Budaya
Nilai budaya merupakan nilai-nilai yang berkenaan dengan
kebiasaan/tradisi/adat-istiadat yang berlaku pada suatu medan/daerah
·
Latar belakang
kehidupan pengarang
1.
Biografi
Biografi ini berisi tentang riwayat hidup si pengarang yang ditulis secara
keseluruhan
2.
Kondisi
Psikologis
Kondisi psikologis ini berisi tentang pemahaman mengenai kondisi mood serta
keadaan yang mengharuskan seorang pengarang menulis cerpen
3.
Aliran Sastra
Seorang penulis pasti akan mengikuti aliran sastra tertentu. Ini sangat
berpengaruh terhadap gayapenulisan yang dipakai penulis dalam menciptakan
sebuah karya
·
Situasi sosial
ketika cerita itu diciptakan
Pengaruh kondisi
latar belakang masyarakat sangat lah besar terhadap terbentuknya sebuah cerpen.
Pemahaman itu bisa berupa pengkajian :
1.
Ideologi negara
2.
Kondisi politik
3.
Kondisi sosial
4.
Hingga kondisi
ekonomi masyarakat.
C. Nilai-nilai dalam cerpen
1. Nilai moral, yaitu nilai yang berkaitan
dengan akhlak/budi pekerti/susila atau baik buruk tingkah laku.
2. Nilai
sosial/kemasyarakatan, yaitu nilai yang berkaitan dengan norma yang berada di
dalam masyarakat.
3. Nilai religius/keagamaan, yaitu nilai yang berkaitan dengan tuntutan
beragama.
4. Nilai pendidikan/edukasi, yaitu nilai yang berkaitan dengan pengubahan
tingkah laku dari baik ke buruk
(pengajaran).
5. Nilai estetis/keindahan, yaitu nilai yang berkaitan dengan hal-hal yang
menarik/menyenangkan (rasa
seni).
6. Nilai etika, yaitu nilai yang berkaitan dengan sopan santun dalam kehidupan.
7. Nilai politis, yaitu nilai yang berkaitan dengan pemerintahan.
8. Nilai budaya, yaitu nilai yang berkaitan dengan adat istiadat.
9. Nilai kemanusiaan, yaitu nilai yang berhubungan dengan sifat-sifat manusia.
Nilai-nilai ini ada yang bersifat ideologis, politis, ekonomis,
sosiologis, budaya, edukatif, humoris, dan sebagainya.
D. teknik menulis cerpen
§ Memilih Topik/Tema: Tema/topik apa pun yang ada di' masyarakat
dapat dijadikan bahan baku cerpen. Misalnya: Pendidikan, sosial, lingkungan,
olah raga, jumalistik, peristiwa sejarah, dan.Iain-Iain.
§ Menentukan tokoh-tokoh dan menganalisis watak
tokoh: Tokoh dalam
cerpen berfungsi sebagai alat penyampai masalah yang akan dikemukakan :
pengarang. Untuk itu pikirkan tokoh yang akan berperan dalam cerpen Anda. Ada
kalanya : nama tokoh disesuaikan dengan watak yang dimiliki. Untuk itu di
samping memilh nama sekaligus anda tentukan watak tokoh. Misalnya:
Topan (watak, semau gue, sok gaya, sombong), Dinda (watak, lembut, baik hati),
Prabu (watak, berwibawa, suka menolong)
§ Merumuskan garis besar cerita: Sebelum menuangkan ide ke dalam cerpen,
langkah efektif agar kita (pengarang) mempunyai pijakan cerita adalah
merumuskan garis besar cerita. Misalnya: Cerita ini bermula ketik ... Tokoh ini
mempunyai persoalan/mengalami….Lalu ia ... sementara itu tokoh ...
Persoalan di antara keduanya mencapai puncaknya ketika….dan seterusnya.
§ Menentukan alur cerita: Dalam karya sastra dikenal ada tiga macam alur
cerita yaitu alur maju, alur mundur, dan alur campuran. Suatu karya sastra
dikatakan menggunakan alur maju apabila peristiwa dalam cerita tersebut
disajikan secara unit dari awal cerita sampai penyelesaian. Dikatakan menggunakan
alur mundur apabila peristiwa yang disampaikan dalam cerita dimulai dari
peristiwa saat ini lalu menceritakan peristiwa-peristiwa di masa lalu.
Sementara disebut alur campuran apabila pengarang dalam menyajikan cerita
menggunakan alur maju dan alur mundur.
§ Menentukan Latar cerita: Setting/latar pada cerita ada tiga
jenis, yaitu latar tempat latar waktu dan latar peristiwa saja cerita yang akan
anda sampaikan tersebut terjadi dl suatu tempat (misalnya: JogJa) dan suatu
waktu (bisa berupa tahun, bulan, hari, pagi, siang, sore dan lain-lain), maka
cerpen anda menggunakan latar di Jogja pada malam hari.
§ Memilih gaya penceritaan: Ada beberapa pilihan yang dapat
digunakan untuk menceritakan suatu peristiwa, Kita bisa memilih gaya
penceritaan secara langsung atau secara tidak langsun~. Apabila penceritaan
secara langsung menjadi pilihan kita, maka kita bisa menggunakan metode aku-an,
artinya kita (pengarang) seolah-olah mengalami sendiri peristiwa dalam cerita.
§ Memilih diksi: Diksi atau pilihan kata harus
disesuaikan dengan tema cerita dan kepada siapa cerita itu ditujukan. Hal itu
dimaksudkan agar cerita yang akan disampaikan terasa akrab dengan kehidupan
pembaca sehingga mudah dipahami. Oleh karena dalam berlatih menulis cerpen ini,
kita memilih tema kehidupan dengan remaja. Kita pilih bahasa dan
istilah-istilah yang sering juga kalimat-kalimat sejenis Doi tuh ngertiin gue
banget!
§ Membuat kerangka karangan dan
mengembangkannya: Kini kita sampai
tahap akhir dalam menulis cerpen yaitu membuat kerangka karangan. yang dimaksud
kerangka karangan dalam pokok bahasan kita kali ini adalah urutan cerita atau
peristiwa yang akan kita sajikan dalam cerpen. Tentu saja hal itu harus
disesuaikan dengan alur cerita yang kita pilih.
2. CONTOH CERITA PENDEK
-Judul cerita:perjalanan terindah
Perjalanan Terindah
Di kesunyian, alarm berbunyi. Teralunkan musik merdu,
terdengar bersemangat berjudul Sang Pemimpi. Mataku sedikit terbuka, pertanda
mimpi indah malam ini telah usai. Jam menunjukkan pukul 03.00. Aku tetap
terbaring, bukan berarti malas. Kuhayati setiap lirik musik yang kudengarkan,
penuh dengan makna. Aku masih terbaring, kukumpulkan semangatku saat itu. Musik
reff terdengar, semangatku semakin berkumpul. Ku terbangun dan langsung
kubuka jendela kamarku. Angin pagi berhembus menyegarkan, walaupun memang masih
gelap. Bibir ini berbisik, ucapan do’a tanda syukurku atas dibangunkannya jasad
ini dari alam yang tak kukenal. Aku siap melewati hari ini.
Aku
berjalan menuju ruang makan, kulihat ibu telah menyiapkan makan sahur. Hari ini
hari senin, sudah menjadi amalan andalan kami untuk berpuasa setiap hari senin
dan kamis. Ku tersenyum pada ibu, kuteruskan langkahku untuk membasuh muka,
menyegarkan wajah kusutku seusai bangun tidur. Berdua saja kami duduk di depan
meja makan, aku dan ibuku.
“Sudah
siapkah semua barangnya, Nak?” tanya ibuku.
“Tentu
saja sudah, Bu. Tinggal berangkat saja”, jawabku.
“Hati-hati
ya kalau sudah di sana. Terus hubungi ibu, takut terjadi apa-apa” ucap ibuku,
sedikit khawatir.
“Tenang
saja, Bu. Lily bisa jaga diri kok, insya Allah”, ujarku.
“Baguslah
kalau begitu. Seusai shalat subuh, ayah akan langsung mengantarmu ke stasiun”.
Aku
hanya tersenyum dan mengangguk. Kulanjutkan membereskan apa saja yang harus ku
bawa. Aku mungkin terlalu keasyikan, setelah shalat subuh aku malah terdiam dan
merenung. Bersama kesunyian aku membayangkan, mimpiku ternyata bisa terwujud.
Dengan keadaan keluarga yang apa adanya, aku bisa kuliah tanpa mengeluarkan
biaya sedikitpun. Di dalam lamunanku, aku terkejut.
“Neng!” ucap ayahku dengan kerasnya.
“Iya Ayah?” jawabku kaget.
“Ayo, sudah pukul lima. Nanti terlambat masuk kereta” ucap
ayahku cemas.
“Oh, baiklah Ayah”.
Dengan menaiki motor yang begitu khas suaranya, kami mulai
berangkat. Ibu tak ikut mengantarku, katanya dia harus menjaga rumah. Lagipula
tak bisa bila harus menaiki motor dengan tiga orang penumpang sambil
membawa barang yang cukup banyak, sungguh hal yang mustahil.
“Jaga diri baik-baik, Nak. Banyak berdo’a. Tetap semangat,
jangan lupa ibadahnya”, nasehat dari ibuku.
“Baik, Bu. Do’akan saja Lily semoga semuanya bisa barakah
bagi kehidupan Lily” ucapku, dengan mata yang cukup berkaca-kaca.
“Iya, Nak. Ibu pasti akan selalu mendo’akanmu. Kalau begitu
lekaslah, takut ketinggalan kereta”, ucap ibuku dengan air matanya yang
menetes.
“Kalau begitu kami berangkat dulu, Bu. Assalamu’alaikum”,
ucap ayahku.
“Wa’alaikumsalam”, jawab ibuku.
Aku pun bersalaman dengan ibu, begitupun ayah. Air mata
membasahi pipi ibu. Aku mengerti, memang seperti itulah perasaan seorang ibu.
Air mataku pun ikut terjatuh, hatiku luluh. Segera ku bergegas menaiki motor
sambil menghapuskan air mataku. Begitu dinginnya subuh itu. Namun untungnya aku
tetap merasakan kehangatan, dari jaket pemberian ibuku dan dari hangatnya
punggung ayahku.
Kereta beberapa menit lagi berangkat. Aku berlari dengan
kencangnya bersama ayahku, membawa barang yang cukup berat. Tepat di depan
pintu kereta aku berdiri.
“Hati-hati ya Nak. Kalau ada apa-apa hubungi ayah atau ibu.
Banyak berdo’a di jalan. Musafir do’anya sangat mustajab. Kabari ayah kalau
sudah sampai”. ucap ayahku dengan lembutnya.
“Baik, Ayah. Doakan Lily ya”, ucapku tersenyum, namun dengan
air mata yang menetes.
Ayah mengangguk. Aku masih tetap tersenyum. Tepat saat itu,
kereta mulai berjalan. Aku pun masuk, kucari tempat duduk yang masih kosong,
tepat di pinggir jendela. Kulihat ayahku masih berdiri, menunggu keberangkatan
kereta hingga sampai jauhnya. Aku masih tetap tersenyum bersama linangan air
mata. Ayahku, ibuku, dan juga desa yang kucintai ini pasti akan amat
kurindukan. Di dalam hati aku semakin bertekad, aku harus bisa menggapai
cita-citaku dengan baik. Ikhtiar dan do’a, sudah pasti harus selalu kulakukan.
Perjalanan di dalam kereta memang amat membuatku nyaman,
menurutku. Apalagi dengan duduk tepat di pinggir jendela. Di pagi hari yang
cerah, pemandangan yang indah tentu sudah sangat cukup untuk menyegarkan
penglihatan ini. Asri, indah nan permai. Inilah salah satu tanda kekuasaanNya.
Sesekali ku beranjak dari tempat dudukku, melangkah menuju pintu kereta. Angin
berhembus, menerpa hijab biru mudaku, menggerakkan bibirku hingga akhirnya
dapat tersenyum refleks, tanpa sadar. Di depan mataku terlihat sawah yang
terhampar luas. Langit biru, bersama para awan dan juga burung yang beterbangan
semakin memperindah suasana ini.
“Maaf Mba, bisakah Anda menyingkir dulu dari sini?”, ucap
seorang lelaki berbaju merah dengan celana jinsnya yang begitu rapi, ditambah
dengan sepatu ala boybandnya berwarna matching dengan kaos merahnya. Aku
sedikit ilfeel dengan gayanya saat berbicara itu. Ditambah gaya
pakaiannya yang seperti orang kota. Memang tampan, namun raut wajahnya seperti
orang yang angkuh. Itulah pemikiranku, sebagai seseorang yang sederhana.
“Kalau ga mau, gimana?”, ucapku sinis.
“Maaf mba, hati-hati kalau berdiri di situ, berbahaya”.
Aku terdiam. Di hatiku terjadi perdebatan. Aku menganggapnya
orang kota yang angkuh, namun setelah kulihat ternyata ucapannya terasa lembut.
Aku bingung, namun saat itu aku lebih memilih sinis kembali padanya. Orang kota
dengan gaya seperti itu pastilah sombong, dan terkadang selalu menyakiti hati
orang-orang yang sederhana, apalagi perempuan sepertiku. Bila dia memang
berlaku baik padaku, dia pasti memiliki maksud yang tidak baik. Seperti apa
yang dikatakan orang-orang di sekitarku, dan juga sesuai dengan pengalaman
pribadiku, bahwa laki-laki yang terlihat angkuh namun memiliki wajah yang
tampan, pastilah dia selalu menyakiti hati seorang wanita.
Lelaki itu berkata “Maaf mba, berbahaya berdiri di situ,
saya hanya memberi tahu. Lagipula....”, aku memotong ucapannya.
“Maaf ya mas, kalau bahaya ya biar saja. Lagipula berbahaya
buat saya, bukan buat Mas!” ucapku semakin sinis.
“Tapi mba..”
“Tapi apa? Jangan paksa saya dong!” ucapku dengan lebih
sinis lagi.
“Maaf Mba, silakan jika mau tetap berdiri di situ. Tapi...”,
ucapannya dipotong lagi olehku.
“Tapi apa?” sentakku. Aku tahu ini tidak baik, tapi aku
tetap pada pendirianku yaitu berlaku sinis kepada laki-laki, apalagi yang belum
kukenal.
“Mohon maaf sekali Mba, saya mau lewat ke gerbong sebelah.
Saya sudah ditunggu oleh teman saya. Sebentar saja Mba, kalau saya sudah lewat,
silakan kalau Mba mau berdiri lagi di situ”, ucapnya dengan sopan.
Aku cukup malu sebenarnya. Dia begitu lembut padaku, tapi
aku malah menyentaknya. Akupun melangkah menjauhi pintu kereta itu dan kembali
ke tempat dudukku. Dia pun melewat.
“Makasih, Mba” ucap lelaki itu sambil tersenyum.
Aku tersenyum kecil. Aku pun melangkah, dalam hati aku masih
ingin tetap berdiri di sana. Kutengok ke arah belakangku, kulihat lelaki itu
malah berdiri di tempat dimana aku berdiri tadi kemudian tersenyum. Aku sedikit
kesal, kemudian akupun menghampirinya.
“Katanya mau lewat, nyatanya kamu malah berdiri di situ!”
teriakku padanya.
“Oh, iya maaf Mba. Cuma mau berdiri sebentar, sekarang pun
mau ke gerbong sebelah. sekali lagi maaf ya, Mba” ucapnya dengan begitu ramah.
Dia pun berjalan meninggalkan gerbong yang ku tempati, menuju gerbong sebelah.
Aku terdiam. Aku pun berdiri kembali di pintu kereta sambil melihat pemandangan
dari setiap jalan yang kulewati. Akupun dapat tersenyum kembali dengan melihat
semua itu.
Dari pagi sampai siang, gerbong yang ku tempati memang
penuh. Namun ternyata lama-kelamaan, penumpang satu persatu turun dari kereta.
Gerbong mulai kosong, maklumlah memang tujuan yang ku tuju adalah stasiun
pemberhentian akhir, jadi aku harus tetap duduk di kereta hingga stasiun akhir,
yaitu di Malang. Cukup sepi juga. Aku masih tetap asik melihat pemandangan
sambil duduk di kursi dekat jendela kereta. Aku merenung dan terkadang
tersenyum sendiri. Kulihat kembali lelaki berkaos merah tadi, duduk di dekat
pintu gerbong sambil memegang kamera SLRnya. Dia memotret segala yang ada di
sekitarnya, dan dia seperti memotret ke arahku. Rasa suudzon mulai muncul
kembali di dalam hatiku, sepertinya dia hendak mengambil fotoku. Bagaimana bisa
aku membiarkan seseorang yang tak kukenal mengambil foto wajahku. Aku pun
beranjak dari tempatku, dan langsung menghampirinya.
“Kamu mengambil foto-fotoku? Buat apa, kamu orang asing,
berani-beraninya mengambil fotoku!” ucapku dengan nada yang cukup tinggi. Dia
hanya terdiam. Aku pun merebut SLR di tangannya. Kulihat foto-foto yang tadi
dia ambil. Ternyata bukan fotoku, ada beberapa foto yang kulihat dan itu adalah
foto-foto pemandangan di sepanjang jalan yang telah dilewati. Seketika itu dia
merebut kembali SLRnya dengan wajah yang sinis. Aku amat tak berkutik waktu
itu. Dia sepertinya kesal padaku. Aku terdiam, aku merasa amat bersalah.
“Maaf, Mas”, ucapku. Tanpa melihat wajahnya, aku langsung
berlari ke tempat dudukku. Aku malu. Mengapa aku harus suudzon kepadanya,
ditambah lagi kejadian tadi pagi saat aku menyentaknya. Semakin ku
mengingatnya, semakin ku merasa bersalah padanya. Perjalanan masih jauh, aku
belum shalat dzuhur. Biarlah, mungkin nanti bisa diqashar. Kereta berhenti di
sebuah stasiun, menunggu penumpang yang akan segera masuk. Sesekali pengamen
dan juga para pedagang masuk. Seorang anak kecil datang menghampiri penumpang
dan memberikan amplop yang bertuliskan sesuatu.
Bapak/Ibu, mohon kasihani kami. Kami belum makan, kami
lapar. Mohon minta keikhlasannya. Semoga amalan Bapak/Ibu diterima di sisi
Allah, Amin.
Itulah kata-kata yang tertulis di amplop itu. Hati kecil ini
merenung, betapa kerasnya kehidupan mereka. Kulihat dompetku, tak begitu banyak
uang di sana. Kusisihkan sedikit saja, mungkin dapat membantu mereka. Mereka
tidak mungkin berbohong, kalaulah memang mereka berbohong, aku yakin bahwa
mereka membutuhkan uang dari orang lain. Sungguh hatiku tersentuh melihat anak
kecil itu.
Sesekali aku melihat ke ujung kereta, duduk seorang lelaki
berkaos merah tadi. Teringat kembali rasa bersalahku tadi. Aku hanya diam.
Walaupun begitu, aku masih tetap saja ingin berdiri di dekat pintu kereta. Akupun
berdiri kembali di sana, di dekatku duduk lelaki itu. Namun dia tidak menolehku
sedikitpun, dia sepertinya marah padaku.Aku pun memakluminya bila
dia bersikap seperti itu padaku. Handphone ku bergetar, ku kira ada telepon
dari ayah atau ibu, ternyata hanya sms dari operator seluler. Aku terdiam
kembali, aku lupa tidak mengisi pulsaku, jadi aku hanya bisa menunggu telepon
dari orang tuaku.
Aku kembali merenung, melamun. Itulah kebiasaanku di waktu
senggang, memikirkan berbagai hal, memberaikan segala fantasi yang ada di
benakku. Aku terkejut. Lelaki berkaos merah itu menghampiriku dan langsung
membawa handphone yang ku pegang. Dia berlari keluar dari gerbong kereta. Aku
refleks mengejarnya keluar. Dia tersenyum. Aku kelelahan, sambil berlari aku
berteriak.
“Hey kamu! Kembalikan handphoneku! Mau kau apakan
handphoneku. Heyy!”. Dia menoleh, kemudian tersenyum kembali. “Sini saja ambil,
kejar dong!”.
“Aku cape! Kamu siapa sih! Tolong jangan ambil hp itu. Aku
masih memerlukannya untuk menghubungi keluargaku. Heeeeey!”, teriakku dengan
lebih kencangnya lagi.
Dia malah berlari semakin kencang. Apa boleh buat, akupun
harus berlari dengan kencang pula. Tapi jangan diremehkan, akupun bisa berlari
dengan kencang, maklum juara estapet se-kecamatan pada saat sd. Aku semakin
sulit mengejarnya. Aku tak tahu seberapa jauh aku berlari, yang pasti aku harus
mendapatkan handphoneku. Di suatu tempat dia berhenti. Aku menghampirinya
dengan nafas yang terengah-engah.
“Kok berhenti! Kenapa gak lari lagi aja sih sekalian! Puas
kan!” teriakku dengan begitu kerasnya.
“Santai aja, Mba. nih Hpnya”, ucapnya sambil tersenyum.
“Loh, maksud kamu apa sih! Bawa hp saya, terus sekarang
dikembalikan lagi. Ga ada kerjaan ya emangnya ......”, ucapanku berhenti. Dia
memegang dahuku, dan mengarahkannya ke segala arah di sekitarku. Dia pun
tersenyum. Seketika aku berkata, “Subhanallah”.
Tanpa aku sadari, aku telah berlari jauh dengannya hingga
tiba di sebuah taman yang penuh dengan bunga. Keadaannya yang amat bersih dan
asri membuatku terkesima tanpa batas. Aku tersenyum, terdiam, menengadah ke
arah langit biru. Sungguh, inilah salah satu keindahan atas segala kekuasaanNya
yang lain. Fatahmorgana alam yang begitu menyejukkan, jutaan warna yang
berbeda, hidup membentuk sebuah kesatuan yang begitu luar biasa. Renunganku itu
membuatku lupa akan segalanya untuk beberapa saat. Setelah itu aku teringat
kembali akan suatu hal.
“Mengapa kau membawaku kemari, Mas?” tanyaku pada lelaki
berkaos merah itu.
“Sudahlah, tak usah banyak tanya. Nikmati keindahan dari
Sang Pencipta ini”, ucapnya sambil tersenyum.Dia memegangku dan membawaku lari.
Dia tertawa, akupun tertawa. Aku tak tahu pasti mengapa aku tertawa, mungkin
karena di dalam hati kecilku tumbuh perasaan yang amat membahagiakan. Dia
membawaku berlari di sekitar taman, memetik banyak bunga yang berwarna-warni.
“Tunggu, Mas. Saya belum shalat. Bisakah kita shalat
dahulu”, ucapku.
“Astagfirullohaladzim, saya pun lupa Mba. Baiklah kita
shalat terlebih dahulu. Di sekitar sini ada mesjid”, ucapnya dengan raut wajah
yang menyejukan hati.
Kami berjalan, melangkah di jalan yang penuh dengan pohon.
Daun beguguran diterpa angin yang bertiup dengan begitu lembutnya. Kesejukan
hati ini amat dapat kurasakan. Beberapa menit kami berjalan, kami pun tiba di
sebuah mesjid. Subhanallah, mesjid yang megah dan indah. Para jamaahnya pun
banyak, ada yang sedang membaca Al Qur’an, ada yang sedang duduk beristirahat,
dan masih banyak lagi. Kami pun shalat berjamaah di sana.
Seusai shalat, kami berjalan-jalan kembali. Sesekali kami
membeli dagangan yang ada di sekitar taman, seperti es krim, roti bakar, dan
yang lainnya. Tempat singgah yang terakhir yaitu di bawah pohon yang amat
rindang, di sebuah ayunan sederhana, kami duduk bersama.
“Mengapa kau mengajakku kemari?” tanyaku padanya.
“Tak apa, aku hanya ingin merasakan bisa dekat denganmu
saja”, jawabnya.
“Memangnya mengapa? Kau tak mengenalku bukan?”, tanya ku
kembali.
“Tentu saja tidak. Tapi saat aku melihat wajahmu, sepertinya
ada suatu hal yang kurasakan. Perasaan yang tak pernah kurasakan sebelumnya”,
jelasnya.
“Memangnya perasaan apa? Kamu itu memang aneh ya”, ujarku.
“Ternyata kamu itu bawel ya. Tapi bikin asyik juga” ucapnya
tersenyum kembali.
“Maaf ya atas perlakuanku tadi”, ucapku menyesal.
“Sudahlah, tak usah terlalu difikirkan. Tak usah minta maaf,
ekspresi wajahmu saat kau kesal padaku bukan membuatku kesal padamu. Aku malah
ingin tersenyum sendiri bila mengingatnya”, ujarnya.
“Yah, gausah ngegombal lah. Eh iya, aku hampir lupa. Aku kan
sedang dalam perjalanan menuju Malang. Ya Allah, tasku masih di dalam kereta.
Pasti kereta telah meninggalkanku sejak tadi! Astagfirullohal’adzim”, ucapku
dengan mata yang berkaca-kaca. Aku pun berlari meninggalkan lelaki itu. Dia memegang
tanganku.
“Tak usah terburu-buru. Kamu masih punya waktu sekitar satu
jam lagi” ucapnya seakan menghiburku.
“Satu jam lagi? Bagaimana bisa? Kereta pasti sudah berangkat
dari tadi!” ucapku dengan nada cukup tinggi.“Memang sudah berangkat” ujarnya
malah tersenyum.
“Terus, aku gimana? Ini dimana? Bagaimana aku bisa sampai ke
Malang. Ditambah lagi barangku masih ada di kereta. Aku mau ke stasiun
sekarang”.
Akupun berlari meninggalkannya. Dia mengejarku, aku berlari
lebih kencang lagi sambil menangis. Aku takut, aku takut tak bisa sampai menuju
cita-cita yang kutuju. Lelaki berkaos merah itu berhasil mengejarku.
“Mau kemana, Mba?” ucapnya khawatir.
“Tentu aku mau ke stasiun. Aku mau ke Malang. Kamu siapa
berani mencegahku? Kamu mau menculikku?” teriakku padanya.
“Ya Allah Mba. Sabarlah dulu”, ucapnya semakin khawatir.
“Maaf Mas. Aku ketakutan”, ucapku kemudian terdiam.
“Tak usah takut Mba. Ada Allah SWT bersama Mba”, ujarnya.
Aku terdiam.
“Jangan khawatir Mba. Barang Mba sudah saya bawa.
Pemberangkatan menuju Malang akan dimulai pukul 17.00. Tiket sudah saya
pesankan. Nanti saya antarkan ke stasiun. Untuk sekarang izinkan saya menemani
Mba sebelum jadwal pemberangkatan dimulai. Saya takut terjadi apa-apa pada
Mba”, jelasnya dengan penuh perhatian.
“Benarkah?”, ucapku. Dalam tangisku aku tersenyum. Dia
sungguh lelaki yang baik. Aku tak tahu siapa dia, tapi aku bisa merasa nyaman
dengannya. Dia hanya mengangguk, setelah itu kami berjalan-jalan kembali ke
tempat yang lebih menakjubkan lagi. Hingga akhirnya, jam menunjukan pukul
16.45. Aku harus segera ke stasiun.
“Terima kasih ya Mba atas hari ini”, ucapnya dengan wajah
yang berseri-seri.
“Justru aku yang berterima kasih. Maaf telah merepotkanmu”,
ucakpku.
Dia tak berkata apapun, hanya tersenyum kecil. Aku berdiri
di pintu kereta. Perlahan kereta berjalan. Dia memberikan sehelai amplop, entah
berisi apa. Senyumnya melebar. Aku semakin menjauh darinya. Seketika aku lupa
menanyakan suatu hal. “Siapa namamu?” teriakku. Dia menjawab, namun tak
terdengar olehku. Yang ada hanyalah tersirat senyum manis di bibirnya yang
seakan terus mengikutiku saat di dalam kereta kemudian merasuki fikiranku. Aku melangkah
menuju kursi dekat jendela kereta. Kubuka amplop yang dia berikan. Isi dari
amplop itu adalah foto-fotoku saat berdiri di dekat pintu kereta. Ternyata
memang benar, dia mengambil foto-fotoku. Aku tersenyum. Aku bisa merasakannya,
merasakan kehangatan tangannya, lembut suaranya, dan senyuman menawan di
wajahnya.
Perjalanan ini akan selalu kuingat, perjalanan terindah di
dalam hidupku. Sejak saat itu, aku semakin merasakan indahnya hari-hariku. Aku
tak tahu dia ada dimana. Yang pasti, untuk saat ini yang harus aku lakukan
adalah menggapai cita-citaku. menjadi kebanggaan orang tuaku dan dapat menjadi
manfaat bagi orang lain. Aku yakin, suatu saat dia akan datang kembali. Entah
kapan, tinggal menunggu waktu yang tepat dari Sang Pencipta. Inilah keyakinan
hatiku. Semoga kita dapat bertemu kembali, dengan kisah yang indah dan diridhai
olehNya, semoga...
-Analisis Unsur-unsur Intrinsik
1. Tema : Cinta
/ Kasih Sayang
2. Alur : Maju
Karena peristiwa yang terjadi pada cerpen tersebut berjalan
sesuai urutan waktu yang maju tanpa adanya cerita tentang peristiwa dio waktu
yang sebelumnya/ yang pernah terjadi sebelumnya.
3. Sudut Pandang : Orang
pertama pelaku utama
Karena tokoh yang ada pada cerpen tersebut berperan sebagai
“aku” yang merupakan tokoh utamanya.
4. Penokohan :
Adapun tokoh serta wataknya yang terdapat pada cerpen
tersebut adalah.
·
Lily, dengan watak: baik/ solehah, keras kepala,
terkadang mudah marah, selalu bersikap suudzon.
·
Ibu, dengan watak perhatian dan penyayang.
·
Ayah, dengan watak lemah lembut dan penyayang.
·
Lelaki berbaju merah, dengan watak lemah lembut,
penyayang, murah senyum, sopan santun dan romantis.
5. Latar/
setting :
a. Tempat
·
Di kamar, sesuai dengan kutipan:
Ku terbangun dan langsung kubuka jendela kamarku.
·
Di ruang makan, sesuai dengan kutipan:
Aku berjalan menuju ruang makan, kulihat ibu telah
menyiapkan makan sahur.
·
Di stasiun kereta, sesuai dengan kutipan:
Kereta beberapa menit lagi berangkat. Aku berlari dengan
kencangnya bersama ayahku, membawa barang yang cukup berat. Tepat di depan pintu
kereta aku berdiri.
·
Di taman bunga, sesuai dengan kutipan:
Tanpa aku sadari, aku telah berlari jauh dengannya hingga
tiba di sebuah taman yang penuh dengan bunga.
·
Di mesjid, sesuai dengan kutipan:
Beberapa menit kami berjalan, kami pun tiba di sebuah
mesjid.
·
Di bawah pohon, sesuai dengan kutipan:
Tempat singgah yang terakhir yaitu di bawah pohon yang amat
rindang, di sebuah ayunan sederhana, kami duduk bersama.
b. Waktu
·
Dini hari, sesuai dengan kutipan:
Mataku sedikit terbuka, pertanda mimpi indah malam ini telah
usai. Jam menunjukkan pukul 03.00.
·
Pagi hari, sesuai dengan kutipan:
Di pagi hari yang cerah, pemandangan yang indah tentu sudah
sangat cukup untuk menyegarkan penglihatan ini.
·
Siang hari, berdasarkan kutipan:
Perjalanan masih jauh, aku belum shalat dzuhur. Biarlah,
mungkin nanti bisa diqashar.
·
Sore hari, berdasarkan kutipan:
Hingga akhirnya, jam menunjukan pukul 16.45. Aku harus
segera ke stasiun.
c. Suasana
·
Sunyi, sesuai dengan kutipan:
Di kesunyian, alarm berbunyi. Teralunkan musik merdu,
terdengar bersemangat berjudul Sang Pemimpi.
·
Nyaman, sesuai dengan kutipan:
Asri, indah nan permai. Inilah salah satu tanda
kekuasaanNya. Sesekali ku beranjak dari tempat dudukku, melangkah menuju pintu
kereta. Angin berhembus, menerpa hijab biru mudaku, menggerakkan bibirku hingga
akhirnya dapat tersenyum refleks, tanpa sadar. Di depan mataku terlihat sawah
yang terhampar luas. Langit biru, bersama para awan dan juga burung yang
beterbangan semakin memperindah suasana ini.
·
Indah, menakjubkan, sesuai dengan kutipan:
Aku tersenyum, terdiam, menengadah ke arah langit biru.
Sungguh, inilah salah satu keindahan atas segala kekuasaanNya yang lain.
Fatahmorgana alam yang begitu menyejukkan, jutaan warna yang berbeda, hidup
membentuk sebuah kesatuan yang begitu luar biasa. Renunganku itu membuatku lupa
akan segalanya untuk beberapa saat.
·
Ramai, sesuai dengan kutipan:
Subhanallah, mesjid yang megah dan indah. Para jamaahnya pun
banyak, ada yang sedang membaca Al Qur’an, ada yang sedang duduk beristirahat,
dan masih banyak lagi.
6. Gaya
bahasa : hiperbola
Gaya bahasa yang digunakan kebanyakan berupa gaya bahasa
hiperbola, karena terdapat banyak kata yang sekan-akan dilebih-lebihkan agar
terasa lebih dari biasanya, contohnya dari beberapa kutipan yaitu
Tanpa aku sadari, aku telah berlari jauh dengannya hingga
tiba di sebuah taman yang penuh dengan bunga. Keadaannya yang amat bersih dan
asri membuatku terkesima tanpa batas. Aku tersenyum, terdiam, menengadah ke
arah langit biru. Sungguh, inilah salah satu keindahan atas segala kekuasaanNya
yang lain. Fatahmorgana alam yang begitu menyejukkan, jutaan warna yang
berbeda, hidup membentuk sebuah kesatuan yang begitu luar biasa. Renunganku itu
membuatku lupa akan segalanya untuk beberapa saat.
7. Amanat :
·
Jangan berprasangka buruk terlebih dahulu kepada
orang lain sebelum kita mengetahui kebenaran yang sebenarnya dari orang
tersebut.
Dalam cerita ini diceritakan, Lily merasa bahwa lelaki
berkaos merah itu orang yang angkuh akan tetapi setelah dekat dengan laki-laki
tersebut, barulah dia merasa bersalah karena prasangka buruknya itu ternyata
salah.
·
Jangan mudah marah kepada seseorang.
Diceritakan pada cerpen tersebut bahwa Lily selalu mudah
marah kepada lelaki yang ia temui di kereta. Pada akhirnya, kemarahan hanya
dapat membuatnya merasa malu dan merasa bersalah.
·
Syukuri segala kekuasaan yang telah diberikan
oleh Allah.
Di dalam cerpen tersebut mengingatkan kita akan kekuasaan
Allah yang ada di bumi. Kita harus bisa menyukurinya karena kekuasaan itu
merupakan suatu keindahan yang dapat kita rasakan secara langsung.
·
Urusan cinta, hanya Allah yang tahu. Kita
tidak tahu kapan cinta itu akan datang, namun kita harus percaya bahwa suatu
saat Allah akan menunjukan jalanNya yang indah dalam menunjukan cinta itu.
Tinggal keyakinan dan kesabaran yang harus dimiliki.
Dalam cerpen tersebut, di akhir cerita tersirat bahwa Lily
pada akhirnya harus berpisah dengan sseorang yang dikaguminya. Walaupun begitu,
dia yakin bahwa suatu saat cinta itu akan datang kembali. Yang penting,
cita-cita dan mimpi-mimpi indah kita harus bisa kita capai.
-Analisis Unsur-unsur Ekstrinsik
1. Nilai yang terkandung
pada cerpen
·
Nilai sosial
Interaksi atau komunikasi harus bisa dilakukan dengan baik
agar tidak ada kesalahfahaman, contohnya yaitu yang diami oleh Lily dan lelaki
berkaos merah yang beberapa kali mengalami kesalahfahaman.
·
Nilai agama
Rasa suudzon seharusnya dihilangkan terlebih dahulu bila
memang tidak mengetahui kenyataannya. Suudzon ini telah terjadi pada cerpen di
atas yaitu dari Lily ke lelaki berkaos merah
·
Nilai moral
Bersikap sopan sudah menjadi salah satu norma yang berlaku
di lingkungan yang diceritakan pada cerpen. Salah satu contohnya yaitu berkata
dengan lemah lembut dan selalu tersenyum
2. Lingkungan pengarang
Sesuai dengan cerpen yang ditulis pengarang, kemungkinan
keadaan lingkungan dari pengarang yaitu kehidupan yang religius, penuh norma
dan sopan santun, serta kehidupan yang indah dengan suasananya.
3. Identitas pengarang
Cerpen “Perjalanan Terindah” ini disusun oleh seorang
pelajar asal Garut yang bernama Zulfa Fadila. Lahir di Garut tanggal 27 Oktober
1996 dari sepasang orang tua yang bernama Drs. Agus Juanda dan Ika Supartika.
Zulfa merupakan anak kelima dari sembilan bersaudara. Saat ini masih menjalani
pendidikan di SMAN 2 Garut semester akhir. Zulfa merupakan alumni dari SMPN 1
Leles, SDN Leles 1 dan TK Pelita.
Zulfa bukan seorang penulis pada umumnya, dia hanya pelajar
biasa. Hanya saja menulis sudah mulai menjadi hobinya saat di SMA, namun tidak
begitu diperdalam. Zulfa hanya menyalurkan hobinya melalui cerita-cerita pendek
yang ditulis pada entri blognya yang berjudul “Sebening Ketulusan Hati”. Dia
aktif di beberapa organisasi di SMA namun tidak mempunyai prestasi yang begitu
banyak. Harapannya untuk saat ini yaitu bisa melewati masa transisinya di kelas
XII SMA, bisa melaksanakan UN dengan sukses, serta bisa diterima di perguruan
tinggi negeri favoritnya yaitu di ITB jurusan teknik fisika. Untuk saat ini,
dia belum bisa meneruskan posting atau berbagi cerita yang lainnya karena fokus
akan tujuan jangka pendeknya saat ini.
Begitulaah, walaupun penjelasannya panjang lebar..semoga
bermanfaat buat pembaca sekalian!terimakasih sudah mengunjungi Blog ini. Saya
Fathimah pamit dulu..sampai bertemu di posting-an
berikutnya. Akhirul kalam, Wassalamu’alaykum warrahmatullah wabarakatuh