Selasa, 19 Mei 2015

Catatan Harian

Senin, 4 Mei 2015 sampai Jum’at, 8 Mei 2015 saat dimana teman-teman seangkatan saya pergi mengikuti kegiatan Goes To Campus (singkat: GTC) selama seminggu, kecuali saya dan beberapa anak lainnya. Alasan saya tidak mengikuti GTC karena orangtua tidak mendukung serta tidak ada kemauan yang kuat untuk mengikutinya. Karena itu liburlah selama seminggu!
               Selama liburan, kegiatan saya sehari-hari ialah bangun tidur, sarapan, beres-beres rumah, olahraga, tidur siang dll. Tidak ada yang istimewa. Namun untuk mengisi waktu luang saya biasanya baca buku, nonton, tilawah, bahkan berlatih double stick!Mumpung sedang banyak waktu luang dan memang saya pribadi berniat mendalami sekaligus menguasai double stick, inilah saat yang tepat. Alhamdulillah kesampaian  juga. Naah selain itu saya juga mengurusi urusan wisuda kelas 12 karena kebetulan saya termasuk panitia yang tidak mengikuti GTC, jadi saya berusaha memaksimalkan waktu yang ada untuk menyelesaikan apa yang perlu diselesaikan. Disaat yang sama, kelas 11 mengikuti kegiatan GTC selama seminggu, kelas 10 fieldtrip ke Pramuka, dan kelas 12 farewell atau perpisahan. Tentu saya merasa kesepian sekaligus rindu sama teman-teman, tetapi alhamdulillah masih ada yang berbaik hati bersilaturrahmi ke rumah saya untuk bermain, belajar, berdiskusi ataupun ngobrol biasa. Mereka adalah Vern dan Zahra, yang sama-sama tidak mengikuti kegiatan GTC, mereka mengembalikan senyumku dihari-hari yang flat ini hehehe…

Kebutuhan lainnya seperti sarapan, makan siang, dan makan malam tentu tak terlewatkan. Juga mandi pagi dan sore, tetap rutin kok hehe:). Dan untuk sisi ruhiyah juga tak lupa saya penuhi. Alhamdulillah tetap rutin sholat 5 waktu, Al-ma’tsurat, Sholat Dhuha, Tilawah, Murajaah, dan mempelajari hadits-hadits Bukhari. insyaAllah waktunya berkah, aamiinJ
              
Begitulah kurang lebih rutinitas keseharian saya selama seminggu libur, walaupun tidak terlalu detail, nanti malah jadi seperti diary:D InysaAllah ada nilai yang bisa diambil dari catatan harian di atas, seperti jangan sia-siakan waktu, dan pergunakanlah waktu mu untuk hal-hal yang bermanfaat. Terimakasih sudah berkunjung ke blog ini, saya pamit dulu..
              
Wassalamu’alaykum warrahmatullahi wabarakatuh

Sabtu, 02 Mei 2015

B.IND:CERITA PENDEK


Bismillahirrahmaanirrahiim, Assalamu'alaykum wr wb.
Welcome to Fathimahsid’s blog..Untuk posting kali ini ane mau nge-share tentang Cerita Pendek atau yang biasa teman-teman kenal dengan sebutan cerpen. Kalian sering kan, pas kecil dulu di dongeng-in sama ibu atau ayah, naah dongeng itu beberapa ada yang masuk dalam kategori Cerita Pendek atau cerita-cerita pendek yang sering kalian temui di majalah atau koran..kenapa gitu? Yuk kita cari  tau lebih banyak tentang cerpen berikut ini..selamat membaca

1. CERITA PENDEK           
A. Pengertian Cerita Pendek
Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi lain yang lebih panjang, seperti novella (dalam pengertian modern) dan novel. Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Ceritanya bisa dalam berbagai jenis.
B. Unsur-unsur cerita pendek
-Unsur Intrinsik
Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun karya itu sendiri. Unsur–unsur intrinsik cerpen mencakup:
·        Tema adalah ide pokok sebuah cerita, yang diyakini dan dijadikan sumber cerita.
·        Latar(setting) adalah tempat, waktu , suasana yang terdapat dalam cerita. Sebuah cerita harus jelas dimana berlangsungnya, kapan terjadi dan suasana serta keadaan ketika cerita berlangsung.
·        Alur (plot) adalah susunan peristiwa atau kejadian yang membentuk sebuah cerita.
Alur dibagi menjadi 3 yaitu:
1.)   Alur maju adalah rangkaian peristiwa yang urutannya sesuai dengan urutan waktu kejadian atau cerita yang bergerak ke depan terus.
2.)  Alur mundur adalah rangkaian peristiwa yang susunannya tidak sesuai dengan urutan waktu kejadian atau cerita yang bergerak mundur (flashback).
3.)  Alur campuran adalah campuran antara alur maju dan alur mundur.
Alur meliputi beberapa tahap:
a.     Pengantar: bagian cerita berupa lukisan , waktu, tempat atau kejadian yang merupakan awal cerita.
b.    Penampilan masalah: bagian yang menceritakan masalah yang dihadapi pelaku cerita.
c.    Puncak ketegangan / klimaks : masalah dalam cerita sudah sangat gawat, konflik telah memuncak.
d.    Ketegangan menurun / antiklimaks : masalah telah berangsur–angsur dapat diatasi dan kekhawatiran mulai hilang.
e.    Penyelesaian / resolusi : masalah telah dapat diatasi atau diselesaikan.
·        Perwatakan
Menggambarkan watak atau karakter seseorang tokoh yang dapat dilihat dari tiga segi yaitu melalui:
1.)   Dialog tokoh
2.)  Penjelasan tokoh
3.)  Penggambaran fisik tokoh
·        Tokoh
Tokoh adalah orang orang yang diceritakan dalam cerita dan banyak mengambil peran dalam cerita. tokoh dibagi menjadi 3, yaitu:
1.)   Tokoh Protagonis : tokoh utama pada cerita
2.)  Tokoh Antagonis : tokoh penentang atau lawan dari tokoh utama
3.)  Tokoh Tritagonis : penengah dari tokoh utama dan tokoh lawan
·        Nilai (amanat)
Amanat adalah pesan atau nasihat yang ingin disampaikan pengarang melalui cerita.

-Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Unsur ekstrinsik meliputi:
·        Nilai-nilai dalam cerita
1.      Nilai Agama
Nilai agama yaitu nilai-nilai dalam cerita yang sangat berkaitan dengan ajaran yang berasal dari agama.
2.      Nilai Moral
Nilai moral merupakan nilai-nilai dalam cerita yang sangat berkaitan dengan akhlak atau etika. Nilai moral dalam sebuah cerita bisa jadi nilai moral yang baik, bisa juga nilai moral yang buruk/jelek.
3.      Nilai Budaya
Nilai budaya merupakan nilai-nilai yang berkenaan dengan kebiasaan/tradisi/adat-istiadat yang berlaku pada suatu medan/daerah

·        Latar belakang kehidupan pengarang
1.      Biografi
Biografi ini berisi tentang riwayat hidup si pengarang yang ditulis secara keseluruhan
2.      Kondisi Psikologis
Kondisi psikologis ini berisi tentang pemahaman mengenai kondisi mood serta keadaan yang mengharuskan seorang pengarang menulis cerpen
3.      Aliran Sastra
Seorang penulis pasti akan mengikuti aliran sastra tertentu. Ini sangat berpengaruh terhadap gayapenulisan yang dipakai penulis dalam menciptakan sebuah karya
·        Situasi sosial ketika cerita itu diciptakan
Pengaruh kondisi latar belakang masyarakat sangat lah besar terhadap terbentuknya sebuah cerpen. Pemahaman itu bisa berupa pengkajian :
 
1.      Ideologi negara
2.      Kondisi politik
3.      Kondisi sosial
4.      Hingga kondisi ekonomi masyarakat.
C. Nilai-nilai dalam cerpen
1. Nilai moral, yaitu nilai yang berkaitan dengan akhlak/budi pekerti/susila atau baik buruk tingkah laku.
2. Nilai sosial/kemasyarakatan, yaitu nilai yang berkaitan dengan norma yang berada di dalam masyarakat.
3. Nilai religius/keagamaan, yaitu nilai yang berkaitan dengan tuntutan beragama.
4. Nilai pendidikan/edukasi, yaitu nilai yang berkaitan dengan pengubahan tingkah laku dari baik ke buruk
    (pengajaran).
5. Nilai estetis/keindahan, yaitu nilai yang berkaitan dengan hal-hal yang menarik/menyenangkan (rasa
    seni).
6. Nilai etika, yaitu nilai yang berkaitan dengan sopan santun dalam kehidupan.
7. Nilai politis, yaitu nilai yang berkaitan dengan pemerintahan.
8. Nilai budaya, yaitu nilai yang berkaitan dengan adat istiadat.
9. Nilai kemanusiaan, yaitu nilai yang berhubungan dengan sifat-sifat manusia. Nilai-nilai ini ada yang bersifat  ideologis, politis, ekonomis, sosiologis, budaya, edukatif, humoris, dan sebagainya.

D. teknik menulis cerpen
§  Memilih Topik/Tema: Tema/topik apa pun yang ada di' masyarakat dapat dijadikan bahan baku cerpen. Misalnya: Pendidikan, sosial, lingkungan, olah raga, jumalistik, peristiwa sejarah, dan.Iain-Iain. 
§  Menentukan tokoh-tokoh dan menganalisis watak tokoh: Tokoh dalam cerpen berfungsi sebagai alat penyampai masalah yang akan dikemukakan : pengarang. Untuk itu pikirkan tokoh yang akan berperan dalam cerpen Anda. Ada kalanya : nama tokoh disesuaikan dengan watak yang dimiliki. Untuk itu di samping memilh nama sekaligus anda tentukan watak tokoh. Misalnya:     Topan (watak, semau gue, sok gaya, sombong), Dinda (watak, lembut, baik hati), Prabu (watak, berwibawa,  suka menolong)        
§  Merumuskan garis besar cerita: Sebelum menuangkan ide ke dalam cerpen, langkah efektif agar kita (pengarang) mempunyai pijakan cerita adalah merumuskan garis besar cerita. Misalnya: Cerita ini bermula ketik ... Tokoh ini mempunyai persoalan/mengalami….Lalu ia ... sementara  itu tokoh ... Persoalan di antara keduanya mencapai puncaknya ketika….dan seterusnya.
§  Menentukan alur cerita: Dalam karya sastra dikenal ada tiga macam alur cerita yaitu alur maju, alur mundur, dan alur campuran. Suatu karya sastra dikatakan menggunakan alur maju apabila peristiwa dalam cerita tersebut disajikan secara unit dari awal cerita sampai penyelesaian. Dikatakan menggunakan alur mundur apabila peristiwa yang disampaikan dalam cerita dimulai dari peristiwa saat ini lalu menceritakan peristiwa-peristiwa di masa lalu. Sementara disebut alur campuran apabila pengarang dalam menyajikan cerita menggunakan alur maju dan alur mundur.
§  Menentukan Latar cerita: Setting/latar pada cerita ada tiga jenis, yaitu latar tempat latar waktu dan latar peristiwa saja cerita yang akan anda sampaikan tersebut terjadi dl suatu tempat (misalnya: JogJa) dan suatu waktu (bisa berupa tahun, bulan, hari, pagi, siang, sore dan lain-lain), maka cerpen anda menggunakan latar di Jogja pada malam hari.
§  Memilih gaya penceritaan: Ada beberapa pilihan yang dapat digunakan untuk menceritakan suatu peristiwa, Kita bisa memilih gaya penceritaan secara langsung atau secara tidak langsun~. Apabila penceritaan secara langsung menjadi pilihan kita, maka kita bisa menggunakan metode aku-an, artinya kita (pengarang) seolah-olah mengalami sendiri peristiwa dalam cerita.    
§  Memilih diksi: Diksi atau pilihan kata harus disesuaikan dengan tema cerita dan kepada siapa cerita itu ditujukan. Hal itu dimaksudkan agar cerita yang akan disampaikan terasa akrab dengan kehidupan pembaca sehingga mudah dipahami. Oleh karena dalam berlatih menulis cerpen ini, kita memilih tema kehidupan dengan remaja. Kita pilih bahasa dan istilah-istilah yang sering juga kalimat-kalimat sejenis Doi tuh ngertiin gue banget!
§  Membuat kerangka karangan dan mengembangkannya: Kini kita sampai tahap akhir dalam menulis cerpen yaitu membuat kerangka karangan. yang dimaksud kerangka karangan dalam pokok bahasan kita kali ini adalah urutan cerita atau peristiwa yang akan kita sajikan dalam cerpen. Tentu saja hal itu harus disesuaikan dengan alur cerita yang kita pilih.

2. CONTOH CERITA PENDEK
-Judul cerita:perjalanan terindah
Perjalanan Terindah
Di kesunyian, alarm berbunyi. Teralunkan musik merdu, terdengar bersemangat berjudul Sang Pemimpi. Mataku sedikit terbuka, pertanda mimpi indah malam ini telah usai. Jam menunjukkan pukul 03.00. Aku tetap terbaring, bukan berarti malas. Kuhayati setiap lirik musik yang kudengarkan, penuh dengan makna. Aku masih terbaring, kukumpulkan semangatku saat itu. Musik reff terdengar, semangatku semakin berkumpul. Ku terbangun dan langsung kubuka jendela kamarku. Angin pagi berhembus menyegarkan, walaupun memang masih gelap. Bibir ini berbisik, ucapan do’a tanda syukurku atas dibangunkannya jasad ini dari alam yang tak kukenal. Aku siap melewati hari ini.
            Aku berjalan menuju ruang makan, kulihat ibu telah menyiapkan makan sahur. Hari ini hari senin, sudah menjadi amalan andalan kami untuk berpuasa setiap hari senin dan kamis. Ku tersenyum pada ibu, kuteruskan langkahku untuk membasuh muka, menyegarkan wajah kusutku seusai bangun tidur. Berdua saja kami duduk di depan meja makan, aku dan ibuku.
            “Sudah siapkah semua barangnya, Nak?” tanya ibuku.
            “Tentu saja sudah, Bu. Tinggal berangkat saja”, jawabku.
            “Hati-hati ya kalau sudah di sana. Terus hubungi ibu, takut terjadi apa-apa” ucap ibuku, sedikit khawatir.
            “Tenang saja, Bu. Lily bisa jaga diri kok, insya Allah”, ujarku.
            “Baguslah kalau begitu. Seusai shalat subuh, ayah akan langsung mengantarmu ke stasiun”.
            Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Kulanjutkan membereskan apa saja yang harus ku bawa. Aku mungkin terlalu keasyikan, setelah shalat subuh aku malah terdiam dan merenung. Bersama kesunyian aku membayangkan, mimpiku ternyata bisa terwujud. Dengan keadaan keluarga yang apa adanya, aku bisa kuliah tanpa mengeluarkan biaya sedikitpun. Di dalam lamunanku, aku terkejut.
“Neng!” ucap ayahku dengan kerasnya.
“Iya Ayah?” jawabku kaget.
“Ayo, sudah pukul lima. Nanti terlambat masuk kereta” ucap ayahku cemas.
“Oh, baiklah Ayah”.
Dengan menaiki motor yang begitu khas suaranya, kami mulai berangkat. Ibu tak ikut mengantarku, katanya dia harus menjaga rumah. Lagipula tak bisa bila harus menaiki motor dengan tiga orang penumpang sambil membawa barang yang cukup banyak, sungguh hal yang mustahil.
“Jaga diri baik-baik, Nak. Banyak berdo’a. Tetap semangat, jangan lupa ibadahnya”, nasehat dari ibuku.
“Baik, Bu. Do’akan saja Lily semoga semuanya bisa barakah bagi kehidupan Lily” ucapku, dengan mata yang cukup berkaca-kaca.
“Iya, Nak. Ibu pasti akan selalu mendo’akanmu. Kalau begitu lekaslah, takut ketinggalan kereta”, ucap ibuku dengan air matanya yang menetes.
“Kalau begitu kami berangkat dulu, Bu. Assalamu’alaikum”, ucap ayahku.
“Wa’alaikumsalam”, jawab ibuku.
Aku pun bersalaman dengan ibu, begitupun ayah. Air mata membasahi pipi ibu. Aku mengerti, memang seperti itulah perasaan seorang ibu. Air mataku pun ikut terjatuh, hatiku luluh. Segera ku bergegas menaiki motor sambil menghapuskan air mataku. Begitu dinginnya subuh itu. Namun untungnya aku tetap merasakan kehangatan, dari jaket pemberian ibuku dan dari hangatnya punggung ayahku.
Kereta beberapa menit lagi berangkat. Aku berlari dengan kencangnya bersama ayahku, membawa barang yang cukup berat. Tepat di depan pintu kereta aku berdiri.
“Hati-hati ya Nak. Kalau ada apa-apa hubungi ayah atau ibu. Banyak berdo’a di jalan. Musafir do’anya sangat mustajab. Kabari ayah kalau sudah sampai”. ucap ayahku dengan lembutnya.
“Baik, Ayah. Doakan Lily ya”, ucapku tersenyum, namun dengan air mata yang menetes.
Ayah mengangguk. Aku masih tetap tersenyum. Tepat saat itu, kereta mulai berjalan. Aku pun masuk, kucari tempat duduk yang masih kosong, tepat di pinggir jendela. Kulihat ayahku masih berdiri, menunggu keberangkatan kereta hingga sampai jauhnya. Aku masih tetap tersenyum bersama linangan air mata. Ayahku, ibuku, dan juga desa yang kucintai ini pasti akan amat kurindukan. Di dalam hati aku semakin bertekad, aku harus bisa menggapai cita-citaku dengan baik. Ikhtiar dan do’a, sudah pasti harus selalu kulakukan.
Perjalanan di dalam kereta memang amat membuatku nyaman, menurutku. Apalagi dengan duduk tepat di pinggir jendela. Di pagi hari yang cerah, pemandangan yang indah tentu sudah sangat cukup untuk menyegarkan penglihatan ini. Asri, indah nan permai. Inilah salah satu tanda kekuasaanNya. Sesekali ku beranjak dari tempat dudukku, melangkah menuju pintu kereta. Angin berhembus, menerpa hijab biru mudaku, menggerakkan bibirku hingga akhirnya dapat tersenyum refleks, tanpa sadar. Di depan mataku terlihat sawah yang terhampar luas. Langit biru, bersama para awan dan juga burung yang beterbangan semakin memperindah suasana ini.
“Maaf Mba, bisakah Anda menyingkir dulu dari sini?”, ucap seorang lelaki berbaju merah dengan celana jinsnya yang begitu rapi, ditambah dengan sepatu ala boybandnya berwarna matching dengan kaos merahnya. Aku sedikit ilfeel dengan gayanya saat berbicara itu. Ditambah gaya pakaiannya yang seperti orang kota. Memang tampan, namun raut wajahnya seperti orang yang angkuh. Itulah pemikiranku, sebagai seseorang yang sederhana.
“Kalau ga mau, gimana?”, ucapku sinis.
“Maaf mba, hati-hati kalau berdiri di situ, berbahaya”.
Aku terdiam. Di hatiku terjadi perdebatan. Aku menganggapnya orang kota yang angkuh, namun setelah kulihat ternyata ucapannya terasa lembut. Aku bingung, namun saat itu aku lebih memilih sinis kembali padanya. Orang kota dengan gaya seperti itu pastilah sombong, dan terkadang selalu menyakiti hati orang-orang yang sederhana, apalagi perempuan sepertiku. Bila dia memang berlaku baik padaku, dia pasti memiliki maksud yang tidak baik. Seperti apa yang dikatakan orang-orang di sekitarku, dan juga sesuai dengan pengalaman pribadiku, bahwa laki-laki yang terlihat angkuh namun memiliki wajah yang tampan, pastilah dia selalu menyakiti hati seorang wanita.
Lelaki itu berkata “Maaf mba, berbahaya berdiri di situ, saya hanya memberi tahu. Lagipula....”, aku memotong ucapannya.
“Maaf ya mas, kalau bahaya ya biar saja. Lagipula berbahaya buat saya, bukan buat Mas!” ucapku semakin sinis.
“Tapi mba..”
“Tapi apa? Jangan paksa saya dong!” ucapku dengan lebih sinis lagi.
“Maaf Mba, silakan jika mau tetap berdiri di situ. Tapi...”, ucapannya dipotong lagi olehku.
“Tapi apa?” sentakku. Aku tahu ini tidak baik, tapi aku tetap pada pendirianku yaitu berlaku sinis kepada laki-laki, apalagi yang belum kukenal.
“Mohon maaf sekali Mba, saya mau lewat ke gerbong sebelah. Saya sudah ditunggu oleh teman saya. Sebentar saja Mba, kalau saya sudah lewat, silakan kalau Mba mau berdiri lagi di situ”, ucapnya dengan sopan.
Aku cukup malu sebenarnya. Dia begitu lembut padaku, tapi aku malah menyentaknya. Akupun melangkah menjauhi pintu kereta itu dan kembali ke tempat dudukku. Dia pun melewat.
“Makasih, Mba” ucap lelaki itu sambil tersenyum.
Aku tersenyum kecil. Aku pun melangkah, dalam hati aku masih ingin tetap berdiri di sana. Kutengok ke arah belakangku, kulihat lelaki itu malah berdiri di tempat dimana aku berdiri tadi kemudian tersenyum. Aku sedikit kesal, kemudian akupun menghampirinya.
“Katanya mau lewat, nyatanya kamu malah berdiri di situ!” teriakku padanya.
“Oh, iya maaf Mba. Cuma mau berdiri sebentar, sekarang pun mau ke gerbong sebelah. sekali lagi maaf ya, Mba” ucapnya dengan begitu ramah. Dia pun berjalan meninggalkan gerbong yang ku tempati, menuju gerbong sebelah. Aku terdiam. Aku pun berdiri kembali di pintu kereta sambil melihat pemandangan dari setiap jalan yang kulewati. Akupun dapat tersenyum kembali dengan melihat semua itu.
Dari pagi sampai siang, gerbong yang ku tempati memang penuh. Namun ternyata lama-kelamaan, penumpang satu persatu turun dari kereta. Gerbong mulai kosong, maklumlah memang tujuan yang ku tuju adalah stasiun pemberhentian akhir, jadi aku harus tetap duduk di kereta hingga stasiun akhir, yaitu di Malang. Cukup sepi juga. Aku masih tetap asik melihat pemandangan sambil duduk di kursi dekat jendela kereta. Aku merenung dan terkadang tersenyum sendiri. Kulihat kembali lelaki berkaos merah tadi, duduk di dekat pintu gerbong sambil memegang kamera SLRnya. Dia memotret segala yang ada di sekitarnya, dan dia seperti memotret ke arahku. Rasa suudzon mulai muncul kembali di dalam hatiku, sepertinya dia hendak mengambil fotoku. Bagaimana bisa aku membiarkan seseorang yang tak kukenal mengambil foto wajahku. Aku pun beranjak dari tempatku, dan langsung menghampirinya.
“Kamu mengambil foto-fotoku? Buat apa, kamu orang asing, berani-beraninya mengambil fotoku!” ucapku dengan nada yang cukup tinggi. Dia hanya terdiam. Aku pun merebut SLR di tangannya. Kulihat foto-foto yang tadi dia ambil. Ternyata bukan fotoku, ada beberapa foto yang kulihat dan itu adalah foto-foto pemandangan di sepanjang jalan yang telah dilewati. Seketika itu dia merebut kembali SLRnya dengan wajah yang sinis. Aku amat tak berkutik waktu itu. Dia sepertinya kesal padaku. Aku terdiam, aku merasa amat bersalah.
“Maaf, Mas”, ucapku. Tanpa melihat wajahnya, aku langsung berlari ke tempat dudukku. Aku malu. Mengapa aku harus suudzon kepadanya, ditambah lagi kejadian tadi pagi saat aku menyentaknya. Semakin ku mengingatnya, semakin ku merasa bersalah padanya. Perjalanan masih jauh, aku belum shalat dzuhur. Biarlah, mungkin nanti bisa diqashar. Kereta berhenti di sebuah stasiun, menunggu penumpang yang akan segera masuk. Sesekali pengamen dan juga para pedagang masuk. Seorang anak kecil datang menghampiri penumpang dan memberikan amplop yang bertuliskan sesuatu.
Bapak/Ibu, mohon kasihani kami. Kami belum makan, kami lapar. Mohon minta keikhlasannya. Semoga amalan Bapak/Ibu diterima di sisi Allah, Amin.
Itulah kata-kata yang tertulis di amplop itu. Hati kecil ini merenung, betapa kerasnya kehidupan mereka. Kulihat dompetku, tak begitu banyak uang di sana. Kusisihkan sedikit saja, mungkin dapat membantu mereka. Mereka tidak mungkin berbohong, kalaulah memang mereka berbohong, aku yakin bahwa mereka membutuhkan uang dari orang lain. Sungguh hatiku tersentuh melihat anak kecil itu.
Sesekali aku melihat ke ujung kereta, duduk seorang lelaki berkaos merah tadi. Teringat kembali rasa bersalahku tadi. Aku hanya diam. Walaupun begitu, aku masih tetap saja ingin berdiri di dekat pintu kereta. Akupun berdiri kembali di sana, di dekatku duduk lelaki itu. Namun dia tidak menolehku sedikitpun, dia sepertinya  marah padaku.Aku pun memakluminya bila dia bersikap seperti itu padaku. Handphone ku bergetar, ku kira ada telepon dari ayah atau ibu, ternyata hanya sms dari operator seluler. Aku terdiam kembali, aku lupa tidak mengisi pulsaku, jadi aku hanya bisa menunggu telepon dari orang tuaku.
Aku kembali merenung, melamun. Itulah kebiasaanku di waktu senggang, memikirkan berbagai hal, memberaikan segala fantasi yang ada di benakku. Aku terkejut. Lelaki berkaos merah itu menghampiriku dan langsung membawa handphone yang ku pegang. Dia berlari keluar dari gerbong kereta. Aku refleks mengejarnya keluar. Dia tersenyum. Aku kelelahan, sambil berlari aku berteriak.
“Hey kamu! Kembalikan handphoneku! Mau kau apakan handphoneku. Heyy!”. Dia menoleh, kemudian tersenyum kembali. “Sini saja ambil, kejar dong!”.
“Aku cape! Kamu siapa sih! Tolong jangan ambil hp itu. Aku masih memerlukannya untuk menghubungi keluargaku. Heeeeey!”, teriakku dengan lebih kencangnya lagi.
Dia malah berlari semakin kencang. Apa boleh buat, akupun harus berlari dengan kencang pula. Tapi jangan diremehkan, akupun bisa berlari dengan kencang, maklum juara estapet se-kecamatan pada saat sd. Aku semakin sulit mengejarnya. Aku tak tahu seberapa jauh aku berlari, yang pasti aku harus mendapatkan handphoneku. Di suatu tempat dia berhenti. Aku menghampirinya dengan nafas yang terengah-engah.
“Kok berhenti! Kenapa gak lari lagi aja sih sekalian! Puas kan!” teriakku dengan begitu kerasnya.
“Santai aja, Mba. nih Hpnya”, ucapnya sambil tersenyum.
“Loh, maksud kamu apa sih! Bawa hp saya, terus sekarang dikembalikan lagi. Ga ada kerjaan ya emangnya ......”, ucapanku berhenti. Dia memegang dahuku, dan mengarahkannya ke segala arah di sekitarku. Dia pun tersenyum. Seketika aku berkata, “Subhanallah”.
Tanpa aku sadari, aku telah berlari jauh dengannya hingga tiba di sebuah taman yang penuh dengan bunga. Keadaannya yang amat bersih dan asri membuatku terkesima tanpa batas. Aku tersenyum, terdiam, menengadah ke arah langit biru. Sungguh, inilah salah satu keindahan atas segala kekuasaanNya yang lain. Fatahmorgana alam yang begitu menyejukkan, jutaan warna yang berbeda, hidup membentuk sebuah kesatuan yang begitu luar biasa. Renunganku itu membuatku lupa akan segalanya untuk beberapa saat. Setelah itu aku teringat kembali akan suatu hal.
“Mengapa kau membawaku kemari, Mas?” tanyaku pada lelaki berkaos merah itu.
“Sudahlah, tak usah banyak tanya. Nikmati keindahan dari Sang Pencipta ini”, ucapnya sambil tersenyum.Dia memegangku dan membawaku lari. Dia tertawa, akupun tertawa. Aku tak tahu pasti mengapa aku tertawa, mungkin karena di dalam hati kecilku tumbuh perasaan yang amat membahagiakan. Dia membawaku berlari di sekitar taman, memetik banyak bunga yang berwarna-warni.
“Tunggu, Mas. Saya belum shalat. Bisakah kita shalat dahulu”, ucapku.
“Astagfirullohaladzim, saya pun lupa Mba. Baiklah kita shalat terlebih dahulu. Di sekitar sini ada mesjid”, ucapnya dengan raut wajah yang menyejukan hati.
Kami berjalan, melangkah di jalan yang penuh dengan pohon. Daun beguguran diterpa angin yang bertiup dengan begitu lembutnya. Kesejukan hati ini amat dapat kurasakan. Beberapa menit kami berjalan, kami pun tiba di sebuah mesjid. Subhanallah, mesjid yang megah dan indah. Para jamaahnya pun banyak, ada yang sedang membaca Al Qur’an, ada yang sedang duduk beristirahat, dan masih banyak lagi. Kami pun shalat berjamaah di sana.
Seusai shalat, kami berjalan-jalan kembali. Sesekali kami membeli dagangan yang ada di sekitar taman, seperti es krim, roti bakar, dan yang lainnya. Tempat singgah yang terakhir yaitu di bawah pohon yang amat rindang, di sebuah ayunan sederhana, kami duduk bersama.
“Mengapa kau mengajakku kemari?” tanyaku padanya.
“Tak apa, aku hanya ingin merasakan bisa dekat denganmu saja”, jawabnya.
“Memangnya mengapa? Kau tak mengenalku bukan?”, tanya ku kembali.
“Tentu saja tidak. Tapi saat aku melihat wajahmu, sepertinya ada suatu hal yang kurasakan. Perasaan yang tak pernah kurasakan sebelumnya”, jelasnya.
“Memangnya perasaan apa? Kamu itu memang aneh ya”, ujarku.
“Ternyata kamu itu bawel ya. Tapi bikin asyik juga” ucapnya tersenyum kembali.
“Maaf ya atas perlakuanku tadi”, ucapku menyesal.
“Sudahlah, tak usah terlalu difikirkan. Tak usah minta maaf, ekspresi wajahmu saat kau kesal padaku bukan membuatku kesal padamu. Aku malah ingin tersenyum sendiri bila mengingatnya”, ujarnya.
“Yah, gausah ngegombal lah. Eh iya, aku hampir lupa. Aku kan sedang dalam perjalanan menuju Malang. Ya Allah, tasku masih di dalam kereta. Pasti kereta telah meninggalkanku sejak tadi! Astagfirullohal’adzim”, ucapku dengan mata yang berkaca-kaca. Aku pun berlari meninggalkan lelaki itu. Dia memegang tanganku.
“Tak usah terburu-buru. Kamu masih punya waktu sekitar satu jam lagi” ucapnya seakan menghiburku.
“Satu jam lagi? Bagaimana bisa? Kereta pasti sudah berangkat dari tadi!” ucapku dengan nada cukup tinggi.“Memang sudah berangkat” ujarnya malah tersenyum.
“Terus, aku gimana? Ini dimana? Bagaimana aku bisa sampai ke Malang. Ditambah lagi barangku masih ada di kereta. Aku mau ke stasiun sekarang”.
Akupun berlari meninggalkannya. Dia mengejarku, aku berlari lebih kencang lagi sambil menangis. Aku takut, aku takut tak bisa sampai menuju cita-cita yang kutuju. Lelaki berkaos merah itu berhasil mengejarku.
“Mau kemana, Mba?” ucapnya khawatir.
“Tentu aku mau ke stasiun. Aku mau ke Malang. Kamu siapa berani mencegahku? Kamu mau menculikku?” teriakku padanya.
“Ya Allah Mba. Sabarlah dulu”, ucapnya semakin khawatir.
“Maaf Mas. Aku ketakutan”, ucapku kemudian terdiam.
“Tak usah takut Mba. Ada Allah SWT bersama Mba”, ujarnya. Aku terdiam.
 “Jangan khawatir Mba. Barang Mba sudah saya bawa. Pemberangkatan menuju Malang akan dimulai pukul 17.00. Tiket sudah saya pesankan. Nanti saya antarkan ke stasiun. Untuk sekarang izinkan saya menemani Mba sebelum jadwal pemberangkatan dimulai. Saya takut terjadi apa-apa pada Mba”, jelasnya dengan penuh perhatian.
“Benarkah?”, ucapku. Dalam tangisku aku tersenyum. Dia sungguh lelaki yang baik. Aku tak tahu siapa dia, tapi aku bisa merasa nyaman dengannya. Dia hanya mengangguk, setelah itu kami berjalan-jalan kembali ke tempat yang lebih menakjubkan lagi. Hingga akhirnya, jam menunjukan pukul 16.45. Aku harus segera ke stasiun.
“Terima kasih ya Mba atas hari ini”, ucapnya dengan wajah yang berseri-seri.
“Justru aku yang berterima kasih. Maaf telah merepotkanmu”, ucakpku.
Dia tak berkata apapun, hanya tersenyum kecil. Aku berdiri di pintu kereta. Perlahan kereta berjalan. Dia memberikan sehelai amplop, entah berisi apa. Senyumnya melebar. Aku semakin menjauh darinya. Seketika aku lupa menanyakan suatu hal. “Siapa namamu?” teriakku. Dia menjawab, namun tak terdengar olehku. Yang ada hanyalah tersirat senyum manis di bibirnya yang seakan terus mengikutiku saat di dalam kereta kemudian merasuki fikiranku. Aku melangkah menuju kursi dekat jendela kereta. Kubuka amplop yang dia berikan. Isi dari amplop itu adalah foto-fotoku saat berdiri di dekat pintu kereta. Ternyata memang benar, dia mengambil foto-fotoku. Aku tersenyum. Aku bisa merasakannya, merasakan kehangatan tangannya, lembut suaranya, dan senyuman menawan di wajahnya.
Perjalanan ini akan selalu kuingat, perjalanan terindah di dalam hidupku. Sejak saat itu, aku semakin merasakan indahnya hari-hariku. Aku tak tahu dia ada dimana. Yang pasti, untuk saat ini yang harus aku lakukan adalah menggapai cita-citaku. menjadi kebanggaan orang tuaku dan dapat menjadi manfaat bagi orang lain. Aku yakin, suatu saat dia akan datang kembali. Entah kapan, tinggal menunggu waktu yang tepat dari Sang Pencipta. Inilah keyakinan hatiku. Semoga kita dapat bertemu kembali, dengan kisah yang indah dan diridhai olehNya, semoga...
-Analisis Unsur-unsur Intrinsik
1.      Tema                     : Cinta / Kasih Sayang
2.      Alur                       : Maju
Karena peristiwa yang terjadi pada cerpen tersebut berjalan sesuai urutan waktu yang maju tanpa adanya cerita tentang peristiwa dio waktu yang sebelumnya/ yang pernah terjadi sebelumnya.
3.      Sudut Pandang : Orang pertama pelaku utama
Karena tokoh yang ada pada cerpen tersebut berperan sebagai “aku” yang merupakan tokoh utamanya.
4.      Penokohan :
Adapun tokoh serta wataknya yang terdapat pada cerpen tersebut adalah.
·        Lily, dengan watak: baik/ solehah, keras kepala, terkadang mudah marah, selalu bersikap suudzon.
·        Ibu, dengan watak perhatian dan penyayang.
·        Ayah, dengan watak lemah lembut dan penyayang.
·        Lelaki berbaju merah, dengan watak lemah lembut, penyayang, murah senyum, sopan santun dan romantis.
5.      Latar/ setting         :
a.       Tempat      
·        Di kamar, sesuai dengan kutipan:
Ku terbangun  dan langsung kubuka jendela kamarku.
·        Di ruang makan, sesuai dengan kutipan:
Aku berjalan menuju ruang makan, kulihat ibu telah menyiapkan makan sahur.
·        Di stasiun kereta, sesuai dengan kutipan:
Kereta beberapa menit lagi berangkat. Aku berlari dengan kencangnya bersama ayahku, membawa barang yang cukup berat. Tepat di depan pintu kereta aku berdiri.
·        Di taman bunga, sesuai dengan kutipan:
Tanpa aku sadari, aku telah berlari jauh dengannya hingga tiba di sebuah taman yang penuh dengan bunga.
·        Di mesjid, sesuai dengan kutipan:
Beberapa menit kami berjalan, kami pun tiba di sebuah mesjid.
·        Di bawah pohon, sesuai dengan kutipan:
Tempat singgah yang terakhir yaitu di bawah pohon yang amat rindang, di sebuah ayunan sederhana, kami duduk bersama.
b.      Waktu
·        Dini hari, sesuai dengan kutipan:
Mataku sedikit terbuka, pertanda mimpi indah malam ini telah usai. Jam menunjukkan pukul 03.00.
·        Pagi hari, sesuai dengan kutipan:
Di pagi hari yang cerah, pemandangan yang indah tentu sudah sangat cukup untuk menyegarkan penglihatan ini.
·        Siang hari, berdasarkan kutipan:
Perjalanan masih jauh, aku belum shalat dzuhur. Biarlah, mungkin nanti bisa diqashar.
·        Sore hari, berdasarkan kutipan:
Hingga akhirnya, jam menunjukan pukul 16.45. Aku harus segera ke stasiun.
c.       Suasana
·        Sunyi, sesuai dengan kutipan:
Di kesunyian, alarm berbunyi. Teralunkan musik merdu, terdengar bersemangat berjudul Sang Pemimpi.
·        Nyaman, sesuai dengan kutipan:
Asri, indah nan permai. Inilah salah satu tanda kekuasaanNya. Sesekali ku beranjak dari tempat dudukku, melangkah menuju pintu kereta. Angin berhembus, menerpa hijab biru mudaku, menggerakkan bibirku hingga akhirnya dapat tersenyum refleks, tanpa sadar. Di depan mataku terlihat sawah yang terhampar luas. Langit biru, bersama para awan dan juga burung yang beterbangan semakin memperindah suasana ini.
·        Indah, menakjubkan, sesuai dengan kutipan:
Aku tersenyum, terdiam, menengadah ke arah langit biru. Sungguh, inilah salah satu keindahan atas segala kekuasaanNya yang lain. Fatahmorgana alam yang begitu menyejukkan, jutaan warna yang berbeda, hidup membentuk sebuah kesatuan yang begitu luar biasa. Renunganku itu membuatku lupa akan segalanya untuk beberapa saat.
·        Ramai, sesuai dengan kutipan:
Subhanallah, mesjid yang megah dan indah. Para jamaahnya pun banyak, ada yang sedang membaca Al Qur’an, ada yang sedang duduk beristirahat, dan masih banyak lagi.
6.      Gaya bahasa          : hiperbola
Gaya bahasa yang digunakan kebanyakan berupa gaya bahasa hiperbola, karena terdapat banyak kata yang sekan-akan dilebih-lebihkan agar terasa lebih dari biasanya, contohnya dari beberapa kutipan yaitu
Tanpa aku sadari, aku telah berlari jauh dengannya hingga tiba di sebuah taman yang penuh dengan bunga. Keadaannya yang amat bersih dan asri membuatku terkesima tanpa batas. Aku tersenyum, terdiam, menengadah ke arah langit biru. Sungguh, inilah salah satu keindahan atas segala kekuasaanNya yang lain. Fatahmorgana alam yang begitu menyejukkan, jutaan warna yang berbeda, hidup membentuk sebuah kesatuan yang begitu luar biasa. Renunganku itu membuatku lupa akan segalanya untuk beberapa saat.
7.      Amanat     :
·        Jangan berprasangka buruk terlebih dahulu kepada orang lain sebelum kita mengetahui kebenaran yang sebenarnya dari orang tersebut.
Dalam cerita ini diceritakan, Lily merasa bahwa lelaki berkaos merah itu orang yang angkuh akan tetapi setelah dekat dengan laki-laki tersebut, barulah dia merasa bersalah karena prasangka buruknya itu ternyata salah.
·        Jangan mudah marah kepada seseorang.
Diceritakan pada cerpen tersebut bahwa Lily selalu mudah marah kepada lelaki yang ia temui di kereta. Pada akhirnya, kemarahan hanya dapat membuatnya merasa malu dan merasa bersalah.
·        Syukuri segala kekuasaan yang telah diberikan oleh Allah.
Di dalam cerpen tersebut mengingatkan kita akan kekuasaan Allah yang ada di bumi. Kita harus bisa menyukurinya karena kekuasaan itu merupakan suatu keindahan yang dapat kita rasakan secara langsung.
·        Urusan cinta, hanya Allah yang tahu. Kita tidak tahu kapan cinta itu akan datang, namun kita harus percaya bahwa suatu saat Allah akan menunjukan jalanNya yang indah dalam menunjukan cinta itu. Tinggal keyakinan dan kesabaran yang harus dimiliki.
Dalam cerpen tersebut, di akhir cerita tersirat bahwa Lily pada akhirnya harus berpisah dengan sseorang yang dikaguminya. Walaupun begitu, dia yakin bahwa suatu saat cinta itu akan datang kembali. Yang penting, cita-cita dan mimpi-mimpi indah kita harus bisa kita capai.

-Analisis Unsur-unsur Ekstrinsik
1.      Nilai yang terkandung pada cerpen
·        Nilai sosial
Interaksi atau komunikasi harus bisa dilakukan dengan baik agar tidak ada kesalahfahaman, contohnya yaitu yang diami oleh Lily dan lelaki berkaos merah yang beberapa kali mengalami kesalahfahaman.
·        Nilai agama
Rasa suudzon seharusnya dihilangkan terlebih dahulu bila memang tidak mengetahui kenyataannya. Suudzon ini telah terjadi pada cerpen di atas yaitu dari Lily ke lelaki berkaos merah
·        Nilai moral
Bersikap sopan sudah menjadi salah satu norma yang berlaku di lingkungan yang diceritakan pada cerpen. Salah satu contohnya yaitu berkata dengan lemah lembut dan selalu tersenyum
2.      Lingkungan pengarang
Sesuai dengan cerpen yang ditulis pengarang, kemungkinan keadaan lingkungan dari pengarang yaitu kehidupan yang religius, penuh norma dan sopan santun, serta kehidupan yang indah dengan suasananya.
3.      Identitas pengarang
Cerpen “Perjalanan Terindah” ini disusun oleh seorang pelajar asal Garut yang bernama Zulfa Fadila. Lahir di Garut tanggal 27 Oktober 1996 dari sepasang orang tua yang bernama Drs. Agus Juanda dan Ika Supartika. Zulfa merupakan anak kelima dari sembilan bersaudara. Saat ini masih menjalani pendidikan di SMAN 2 Garut semester akhir. Zulfa merupakan alumni dari SMPN 1 Leles, SDN Leles 1 dan TK Pelita.
Zulfa bukan seorang penulis pada umumnya, dia hanya pelajar biasa. Hanya saja menulis sudah mulai menjadi hobinya saat di SMA, namun tidak begitu diperdalam. Zulfa hanya menyalurkan hobinya melalui cerita-cerita pendek yang ditulis pada entri blognya yang berjudul “Sebening Ketulusan Hati”. Dia aktif di beberapa organisasi di SMA namun tidak mempunyai prestasi yang begitu banyak. Harapannya untuk saat ini yaitu bisa melewati masa transisinya di kelas XII SMA, bisa melaksanakan UN dengan sukses, serta bisa diterima di perguruan tinggi negeri favoritnya yaitu di ITB jurusan teknik fisika. Untuk saat ini, dia belum bisa meneruskan posting atau berbagi cerita yang lainnya karena fokus akan tujuan jangka pendeknya saat ini.





Begitulaah, walaupun penjelasannya panjang lebar..semoga bermanfaat buat pembaca sekalian!terimakasih sudah mengunjungi Blog ini. Saya Fathimah pamit dulu..sampai bertemu di posting-an berikutnya. Akhirul kalam, Wassalamu’alaykum warrahmatullah wabarakatuh

Kamis, 19 Maret 2015

KARYA ILMIAH


Bismillahirrahmaanirrahim, Assalamu’alaykum warrahmatullahi wabarakatuh.

Hai, selamat datang di blog FathimahSid. Untuk posting kali ini ane nge-share tentang Karya Ilmiah, yang sekalian buat ngisi nilai tugas B.Indonesia. Kalian pasti udah sering nemuin artikel-artikel seperti makalah seminar, skripsi, jurnal, laporan penelitian dan lain sebagainya. Ternyata itu semua termasuk dalam kategori Karya Ilmiah loh. Kenapa?..yuk kita cari tau lebih banyak lagi tentang Karya Ilmiah, selamat membaca!


KARYA ILMIAH

1.)    Pengertian Karya Ilmiah

Karya Ilmiah adalah laporan tertulis dan diterbitkan yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah di lakukan oleh seseorang atau sebuat tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.

2.) Ciri-ciri Karya Ilmiah
·         Objektif
Keobjektifan ini menampak pada setiap fakta dan data yang diungkapkan berdasarkan kenyataan yang sebenarnya, tidak dmanipulasi. Juga, seiap pernyataan atau simpulan yang disampaikan berdasarkan bukti-bukti yang bisa dipertanggung jawabkan. Dengan demikian siapa pun dapat mengecek kebenaran dan keabsahannya.
·         Netral
Kenetralan ini bisa terlihat pada setiap pertanyaan atau penilaian bebas dari kepentingan-kepentingan tertentu baik kepentingan pribadi maupun kelompok. Oleh karena itu, pernyataan-pernyataan yang bersifat ‘mengajak’, ‘membujuk’ atau ‘mempengaruhi’ pembaca dihindarkan
·         Sistematis
Uraian yang terdapat pada karya ilmiah dikatakan sistematis apabila mengikuti pola pengembangan tertentu, misalkan pola urutan, klasifikasi, kuasalitas, dan sebagainya. Dengan cara demikian, pembaca akan bisa mengikutinya dengan mudah alur uraiannya.
·         Logis
Kelogisan ini bisa dilihat dari pola nalar yang digunakannya, pola nalar induktif atau deduktif. Kalau bermaksud menyimpulkan suatu fakta atau data digunakan pola induktif; sebaliknya, kalau bermaksud membuktikan suatu teori atau hipotesis digunakan pola deduktif.

Menyajikan fakta (bukan emosi atau perasaan). Setiap peryataan, uraian, atau simpulan dalam Karya Ilmiah harus factual, yaitu menyajikan fakta. Oleh karena itu, pernyataan atau ungkapan yang emosional (menggebu-gebu seperti orang berkampanya, perasaan sedih seperti orang berkabung, perasaan senang seperti orang mendapatkan hadiah, dan perasaan marah seperti orang bertengkar) hendaknya dihindarkan.
3.)Jenis-jenis Karya Ilmiah
Ada berbagai jenis Karya Ilmiah, antara lain leporan penelitian, makalah seminar atau simposium, dan artikel jurnal yang ada dasarnya kesemuanya itu merupakan produk dari kegiatan ilmuawan. Data, simpulan, dan informasi lain yang terkandung dalam Karya Ilmiah tersebut dijadikan acuan bagi ilmuawan lain dalam melaksanakan penelitian atau pengkajian selanjutnya.
Di perguruan tinggi, khususnya jenjang S1, mahasiswa terakhir dilatih untuk menghasilkan Karya Ilmiah seperti makalah, laporan praktikum, dan skripsi (tugas terakhir). Skripsi umumnya merupakan laporan penelitian berskala kecil, tetapi dilakukan cukup mendalam. Sementara itu, makalah yang ditugaskan kepada mahasiswa lebih merupakan simpulan dan pemikiran ilmiah mahasiswa berdasarkan penelaahan tetrhadap Karya-karya Ilmiah yang ditulis oleh para pakar dalam bidang persoalan yang dipelajari. Penyusunan laporan praktikum ditugaskan kepada mahasiswa sebagai wahana untu mengembangkan kemampuan menyusun laporan penelitian.

4.) Sistematika
Sitematika penulisan Karya Ilmiah
·         Bagian pembuka
Sampul.
Halaman judul.
Halaman pngesahan.
Abstraksi.
Kata pengantar.
Daftar isi.
Ringkasan isi.

·         Bagian isi

·         Pendauluan
Latar belakang masalah.
Perumusan masalah.
Pembahasan atau pembatasan masalah.
Tujuan penelitian.
Manfaat penelitian.

·         Kajian teori atau tinjauan kepustakaan
Pembahasan teori.
Kerangka pemikiran dan argumentasi keilmuan.
Pengajuan hipotesis.

·         Metodologi penelitian
Waktu dan tempat penelitian.
Metode dan rancangan penelitian.
Populasi dan sampel.
Instrumen penelitian.
Pengumpulan data dan analisis data.

·         Hasil penelitian
Jabaran variable penelitian.
Hasil penelitian.
Pengajuan hipotesis.
Diskusi penelitian, mengungkapkan pandangan teoristis tentang hasil yang didapatnya.

·         Penutup
Kesimpulan.
Saran.

5.) Catatan kaki dan daftar pusaka
·         Pengertian Catatan Kaki
Catatan kaki adalah daftar keterangan khusus yang ditulis di bagian bawah setiap lembaran atau akhir bab karangan Ilmiah. Catatan kaki biasa digunakan untuk memberikan keterangan dan komentar, menjelaskan sumber kutipan atau sebagai pedoman penyusunan daftar bacaan atau bibliografi.
·         Cara Penulisan
~Catatan kaki harus dipisahkan oleh sebuah garis yang pankangnya empat belas karakter dari margin kiri dan berjarak empat spasi dari teks.
~Catatan kaki diketik berspasikan satu.
~Diberi nomor.
~Nomor Catatan kaki diketik engan jarak enam karekakter dari margin kiri.
~Jika Catatan kakinya lebih dari satu baris maka baris kedua dan selanjutnya dimulai seperti margin teks binasa (Tepat pada margin kiri).
~Jika Catatan kakinya lebih dari satu maka jarak antara satu catatan dengan catatan yang lainnya adalah sama dengan jarak spasi teks.
~Jarak baris terakhir Catatan Kaki tetap 3 sm dari pinggir kertas bagian bawah.
~Keterangan yang panjang tidak boleh dilangkaukan ke halaman berikutnya. Lebih bail potong tulisan asli daripada memotong catatan kaki.
~Jika keterangan yang sama menjadi berurutan (misalnya keterangan nomor 2 sama dengan nomor 3, cukup tuliskan kata ibid daripada mengulang-ulang keterangan Catatan Kaki.
~Jika ada keteragan yang sama tapi tidak berurutan, berikan keterangan op.cit., lih [x] [x] merupakan nomor keterangan sebelumnya.
~Jika keterangan seperti opcit tetapi isinya keterangan tentang artikel, gunakan lc.cit.
~Untuk keterangan mengenai referensi artikel atau buku tertentu, penulisannya mirip daftar pusaka, tetapi nama pengarang tiadk dibalik.

6.) Contoh Karya Ilmiah
Sebenarnya ane dah bikin salah satu jenis Karya Ilmiah yaitu laporan penelitian. Jadi, ane melakukan sebuah penelitian bersama teman kelompok lalu dibuat laporannya. Tapi sayangnya laporan penelitiannya belom selesai jadi belom di-posting. Gapapa ya?daripada ambil punya orang lain..tunggu aja sampai selesai laporan penelitiannya, ntar ane share In shaa Allah.


Dah, itu aja dulu yang bisa ane share ke teman-teman semua, maaf kalau masih terdapat kekurangan dan semoga bermanfaat! Terimakasih sudah mengunjung blog saya..Sampai ketemu!